Tags

,


Mereka bertanya kepadaku tentang perempuan yang membuat takjub tiap mata yang menyapanya, perempuan yang meneduhkan hati pencintanya, perempuan yang meleburkan degup jantung dalam tungku harap.

Dia, perempuanku

yang menari dalam rintik cahaya.

Oase gurun hatiku.

Dia, penuntunku

yang menjadi arah

musafir kembali kerumahnya.

Dia, sebuah alasan

kenapa matahari masih terbit

dan bulan bercahaya dalam hatiku.

Lalu mereka hanya terdiam ketika perempuan itu membuka hatinya. Tidak, tak ada apapun disana. Mereka berharap akan ada nama, penghuni hati yang paling beruntung hanya tuk sekedar pernah ada dan tergurat di hatinya.

Wahai, kau yang membutakan mata kami

kenapa tak ada siapa pun selain gurat waktu

di hatimu

Sedang kami, relakan jasad dan jiwa

untuk bersemayam dan bertasbih

di hatimu.

Perempuan itu tersenyum hingga lalu tak ada siapa pun yang mampu mengatupkan mata dan bibirnya.

Ketulusan yang menjadikanku

mengerti akan hakekat cinta

Penghuni hatiku adalah dia

yang menundukkan nafsunya

yang melumpuhkan emosinya

yang menyatu dalam cahayaNya.

Perlahan sebuah guratan muncul, satu huruf, lalu huruf berikutnya, dan kemudian huruf yang merangkai sendirinya. Sebuah nama, namaku.

Akulah, lelakimu.

-untuk perempuan yang di hatinya tergurat namaku.