Tags

,


Dulu, ya, dulu sekali saat kita bertanya pada pasangan kita atau bahkan tak perlu kita tanya maka ia akan berkata “Aku mencintaimu apa adanya.” namun pada kenyataannya hidup selalu mengalami perubahan. Mungkin kalian sendiri sudah merasakannya, lalu, apa yang terjadi bila kemudian pasangan kita menjadi “tak bisa mencintai kita apa adanya?”

Memang cinta selalu terasa indah. Lengkap dengan segala bumbu romantika, baik yang terasa nikmat maupun pahit. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menyikapi perubahan yang terjadi pada pasangan kita? Apa yang kemudian berlaku bila pasangan kita benar-benar tak sesuai dengan harapan kita atau bahkan kita menjadi orang yang tak bisa diterima apa adanya?

Kau, yang saat ini sedang bertanya “Apa yang salah denganku?” atau “Kemana kau yang dulu mencintaiku apa adanya?” mungkin merasa bahwa pasangan kita bukanlah dia yang kita harapkan. Meski bila kita tarik kembali perjalanan hidup, seharusnya kita pun sudah bisa saling memahami sifat dari pasangan kita. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Menyerah kalah pada keadaan? Mempertahankan sesuatu yang terasa sangat sulit dilakukan? Atau berpura-pura bahwa kita tetap mampu menerima keadaan itu dengan wajar?

Kawanku, kadang memang kita hanya melihat sesuatu yang tampak dari nalar kita. Sesungguhnya banyak hal yang mampu kita raih, juah dari sesuatu yang sanggup kita tangkap dengan mata. Selalu ada makna dari tiap kejadian. Pertanyaannya, sejauh mana kau ingin mendapatkan makna yang berbeda? Makna yang jauh dari harapan kita? Aneh? Bukan, ini bukan sesuatu hal yang aneh. Justru ketika kita mampu memetakan apa yang kita harapkan dan apa yang tak kita harapkan secara seimbang maka bahagia adalah sebuah pilihan.

Mencintai bukanlah paksaan, ini sangat sering dikatakan namun kadang kita malah menjadi terpaksa saat semua berjalan tidak sesuai dengan harapan. Apa harus membunuh perasaan? Apa yang salah? Tidak, jangan biarkan pertanyaan seperti itu menghabiskan energi kita untuk bahagia. Ketika pasangan kita tak mampu lagi menerima keadaan kita yang tak seperti harapan, maka berbicara adalah hal paling baik dibanding memendam rasa yang gundah. Seringkali kita menjadi takut berbicara, mungkin karena memang kita takut kehilangan, tapi setidaknya itu akan mengubah sebuah hal. Apa kau akan membiarkan perasaan gundah itu terus melekat?

Bicaralah dan katakan apa yang kita dan pasangan kita inginkan. Jika memang cinta masih begitu besar, tentulah kita dan pasangan akan sama-sama mencari solusi. Bukan meninggalkan atau ditinggalkan. Namun, jika kenyataannya memang pasangan atau kita sendiri merasa sudah tak sanggup melanjutkan hubungan, maka tentukanlah yang terbaik untuk kebaikan bersama. Hidup bukanlah hal sulit jika kita mampu mencerna maknanya. Dan hidup teramat singkat untuk dilewatkan dengan tangisan.

Sekali lagi, setiap orang terlahir untuk bahagia. Selalu ada matahari untuk mereka yang percaya harapan.